Dari perjalanannya, Filsafat berinteraksi atau
bertransformir antara makro dan mikro.dunia makro adalah keseluruhan
(universal) sedangkan yang mikro adalah diri kita. Ketika orang Yunani berusaha
membongkar mitos-mitos maka sebetulnya itu terjadi pada diri Pak Marsigit, terkait
dengan ruang dan waktu, yaitu kapan, di mana dan bagaimana serta untuk apa.
Orang-orang Yunani yang berusaha membongkar mitos ini tentunya orang dewasa,
bukan anak-anak. Namun mitos juga bermanfaat untuk anak-anak karena mereka
belajar dengan menggunakan mitos. Karena mitos, meskipun kita tidak mengetahui
maknanya, tapi kita tetap melakukannya. Oleh karena itu, anak-anak belajar
menggunakan mitos karena belum memikirkannya.
Mitos untuk orang dewasa ada ruang dan waktunya hingga ke
ruang spiritual. Misalnya seberapa jauh sholat kita, itu disebut mitos. Secara
filsafat sangat mungkin kita menyebut sholat sebagai mitos. Bagi anak kecil,
sholat bukan merupakan mitos.oleh karena itu, tidak hanya di zaman Yunani mitos
itu ada, namun masa sekarang kita pun memiliki mitos. Terkadang mitos itu
sangat kuat. Karena kuatnya, terkadang orang memikirkannya saja tidak berani. Jika
berada di daerah “perbatasan”, maka kita harus berdoa dengan intensif. Itu
merupakan contoh 1 langkah berfilsafat 10 langkah berdoa. Namun di daerah
“perbatasan” ini terdapat banyak ilmu.
Hidup itu merentang dari kutub, yaitu yang ada dan yang
mungkin ada, antara yang terlihat dan tidak terlihat, antara yang konkret dan
yang ghaib. Puncak pencarian Pak Marsigit dari yang ghaib adalah dengan tidur
di makam. Hal ini karena ingin mencari kenapa orang takut dan sejauh mana
ketakutannya. Yang dapat dipetik dari puncak pencarian tersebut adalah kita
harus sopan dan santun di makam karena itu juga merupakan ruang bagi
orang-orang spiritual. Tujuan datang ke sana hendaklah mendoakan, jangan untuk
tujuan yang lain.
Sekembalinya ke Gombong, beliau bermain-main antara
takdir dan nasib. Beliau diminta mendaftar di STAN dan diberi “pegangan”.
Larangan dari “pegangan” tersebut adalah tidak boleh jatuh, tidak boleh dibawa
ke toilet, tidak boleh dibawa ke tempat perjudian, dan tidak boleh dilangkahi.
Namun ketika di tengah perjalanan, penumpang di sebelah beliau bermain kartu.
Ketika menghindari permainan itu, beliau bersandar di pintu toilet sehingga ketika
kereta api berbelok beliau masuk toilet. Beliau bilang “itu kan tidak sengaja”
untuk menghibur diri sendiri. Ketika minum kopi di stasiun, ternyata di
belakangnya ada tukang becak yang bermain judi. Akhirnya beliau berpikir
diterima atau tidak yang penting telah melaksanakan perintah dari orang tua.
Ketika hendak pulang, beliau tertidur di depan makam Kali Bata. Ketika
terbangun, beliau menuju rel kereta api. Di rel kereta api itu, beliau diikuti
kuntilanak yang ingin menguji “pegangan” yang dimiliki. Singkat cerita, beliau
tidak diterima.
Ketika kuliah, beliau belum berdoa secara intensif.
Ketika tidur di Gombong, beliau didatangi kemamang,
seperti lampion, dan mengelilinginya. Ketika lampu dinyalakan, penampakan
tersebut sudah tidak ada. Kejadian ini yang meruntuhkan ego beliau karena
hingga saat ini belum mampu memecahkan misteri tersebut, kecuali hanya yakin
bahwa yang ghaib itu ada. Padahal awalnya beliau berpikir sangat rasional.
Dari kejadian-kejadian tersebut, beliau menyimpulkan
bahwa yang ghaib itu ada sehingga jangan selalu berpikir rasional.
Setinggi-tinggi pikiran manusia tidak akan mungkin bisa memecahkan misteri yang
ghaib. Caranya memecahkannya adalah dengan keyakinan yang sesuai dengan agama
masing-masing.
Sebenarnya, semua manusia itu diberi karunia. Ada suatu pertanyaan,
yaitu mengapa walau sudah berdoa tetapi masih gagal. Menurut pengalaman
spiritual beliau, ketika kita purna dan benar dalam beribadah, maka yang sudah
terjadi itu yang terbaik. Hal ini karena kita percaya pada takdir. Apapun yang
terjadi adalah the best bagi kita
semua. Padahal yang telah terjadi itu meliputi gagal dan sukses. Kegagalan di
masa lalu merupakan yang terbaik bagi diri kita. Secara psikologi, kegagalan
adalah kesuksesan yang tertunda. Sehingga dari penelaahan elegi-elegi
spiritual, dapat disimpulkan tiada sekecil zarah pun, tiada setitik yang ada
pun yang tidak berada untuk kita semua. Tiada hal yang sekecil apa pun yang
bukan merupakan karunia. Maka semua hal yang ada dan yang mungkin ada secara
spiritual adalah karunia-Nya.
Untuk sesuatu hal yang sama, seseorang “naik-turun”
sesuai dengan dimensi ruang dan waktunya. Selain itu, suatu kesan yang mendalam
menyebabkan mimpi. Kesan yang mendalam jika dibarengi dengan fifik yang kurang
sehat akan mempengaruhi fisik, dalam bahasa jawa disebut “nglindur”.
Seorang peramal dapat menebak sesuatu mungkin dari
pengalaman atau ilmu titen.
Sebetulnya secara hakiki orang memiliki masalah, memiliki potensi negatif.
Secara filsafat, apa yang dibicarakan ini merupakan ranah naumena. Tidak apa
dilihat, tidak dapat didengar, tidak dapat diraba, tapi dapat dipikirkan.
Mitos berkaitan dengan intuisi. Tapi yang berkaitan denga
intuisi tidak hanya mitos, logos pun berkaitan. Jadi, intuisi merupakan dasar
dalam hidup. Hampir 90% dari hidup kita merupakan intuisi dan 10% nya merupakan
berpikir (rasional). Setiap hari kita menggunakan intuisi. Apabila kehilangan
intuisi ruang, kita akan bingung. Contoh intuisi ruang adalah ketika kita
kehilangan arah ketika di suatu tempat. Sedangkan contoh kehilangan intuisi
waktu adalah ketika musim dingin, siang tidak sepenuhnya siang, ketika musim
panas, malam tidak sepenuhnya malam. Pada musim panas, jam 12 malam kondisi
langit seperti sore hari dan jam 3 pagi matahari telah bersinar. Hujan pun bisa
terjadi kapan saja, dari cuaca yang panas bisa menjadi hujan yang lebat.
Kehidupan anak-anak sebagaian besar adalah intuisi dan
mitos. Intuisi dan mitos diperoleh dengan aktivitas dan interaksi. Inilah
sebabnya matematika sekolah didefinisikan sebagai kegiatan, bukan sebagai ilmu.
Dalam Matematika sekolah, matematika dideskripsikan sebagai kegiatan mencari
pola, kegiatan memecahkan masalah, kegiatan berkomunikasi. Pembelajaran yang
sesuai dengan definisi ini adalah constructive dan realistic mathematics.
Kaitannyan dengan spiritual tadi, masalahnya adalah bagaimana
kita melalui jalur filsafat dapat meningkatkan kualitas keimanan. Apa pun itu selama masih dibicarakan dan dipirkan
merupakan urusan dunia. Namun ibadah itu meliputi dunia dan akherat. Meskipun
urusan dunia, ada tindakan dan pikiran yang bernilai ibadah. Bagaimana cara
mengimani para Nabi dan Rasul? Kita mempercayai mereka dengan intuisi. Jika
kita mengisolasi diri, maka kita akan kehilangan intuisi. Jika suatu negara
kehilangan intuisinya maka akan salah bertindak.
Intuisi pun bisa salah, misalnya mengatakan Tulungagung
ke madiun adalah ke timur-barat. Intuisi juga dapat diperbaiki. Ketika orang
tidur, ia akan kehilangan intuisi. Sehingga intuisi itu penting bagi seseorang.
Pada suatu saat, Nabi Muhammad dikerumuni oleh para
sahabat. Kemudian salah seorang dari mereka ada yang bertanya.
Sahabat : “Ya
Rasullullah”
Rasulullah : “Apa
Sahabat?”
Sahabat :
“Sebetul-betulnya saya ingin bertanya, wajahmu itu seperti apa?”
Rasulullah : “Kalau kamu ingin mengetahui wajah saya,
tengoklah di lubang telinga anak saya.”
Maka para sahabat satu per satu antri untuk menengok
lubang telinga anak Rasulullah. Yang terlihat hanyalah gelap, tidak ada
apa-apa. Ada satu sahabat yang tidak ikut menengok, yaitu Abu Bakar Shidiq.
Kemudian Rasulullah bertanya, “Wahai Abu Bakar Shidiq, kenapa kamu tidak ikut
menengok lubang telinga anak saya?” Abu Bakar menjawab, “Maafkan hamba ya
Rasul. Sebenar-benar yang terjadi adalah ketika saya tidur, ketika saya
erjalan, ketika saya mandi, ketika saya bepergian, kemanapun aku, aku merasa
bahwa sebenarnya aku sedang memandang wajahmu ya Rasul”. Rasulullah menjawab,
“Nah, itu dia Abu Bakar Shidiq, muridku yang paling cerdas. Silahkan para
sahabat yang lain berguru padanya bagaimana cara melihat wajah Rasulmu”. Abu
Bakar Shidiq menjawab seperti itu karena telah diajari oleh Rasulullah, dan
guru Rasulullah adalah malaikat Jibril dan guru dari malaikat Jibril adalah
Tuhan. Maka untuk menengok wajah Rasulullah carilah gurunya. Dunia dan akherat
memiliki guru masing-masing yang dapat menunjuki dan menghantarkan. Ilmu dunia
hanya mampu menunjuki saja, namun ilmu dunia dapat menunjuki sekaligus
menghantarkan. Yang terjadi di sini adalah yang terlihat (bukan terlihat dengan
mata atau pikiran) adalah Nur Muhammad, dan melihatnya menggunakan hati.
Filsafat sangat luas
tidak hanya berhenti di situ sehingga membaca elegi-elegi itu sebenarnya
berusaha mencapai intuisi-intuisi. Belajar filsafat belum berarti berfilsafat.
Dengan berfilsafat kita bersopan santun. Apabila tidak bersopan santun, maka
kita akan celaka, celaka hati, celaka pikir,celaka penglihatan, dan celaka
fisik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar