Jumat, 07 Desember 2012

Macam-macam Filsafat dan Sejarahnya



Berfilsafat sebetulnya olah pikir. Olah pikir dapat olah pikir dalam arti sendiri, bersama, olah pikir bangsa Indonesia, olah pikir bangsa-bangsa di dunia, olah pikir pikiran dunia, olah pikir pikiran akhirat. Untuk berfilsafat, kita harus menggunakan refrensi, yaitu pikiran para filsuf sehingga untuk berfilsafat kita harus membaca pikiran para filsuf, karya-karyanya dan buku-bukunya.
Macam-Macam filsafat
Objek dari filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Kemudian untuk melihat macam-macam filsafat, objek ini dapat dipersempit lagi. Zaman Yunani Kuno orang berpikir bahwa segala sesuatu terbuat dari apa, bumi terbuat dari apa, bulan terbuat dari apa, tanah terbuat dari apa. Filsafat ini disebut sebagai filsafat alam. Jika objeknya tentang diri manusia, maka filsafatnya disebut filsafat manusia. Jika manusia di Jawa, maka filsafatnya bernama filsafat orang Jawa. Jika filsafatnya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan sripitual, maka filsafatnya bernama filsafat spiritual atau teologi atau filsafat ketuhanan. Secara professional, jika kita mempelajari filsafat, kita juga harus rinci mempelajari lokasi. Lokasi berarti di mana objek tersebut ada. Oleh karena itu, filsafat membagi dua macam, yaitu filsafat yang objeknya berada di dalam pikiran dan filsafat yang objeknya berada di luar pikiran. Contoh objek di dalam pikiran adalah ketika kita memejamkan mata, kita melihat suatu benda, maka benda itu ada di dalam pikiran kita. Benda yang ada di dalam pikiran itu bersifat ideal dan tetap sehingga filsafatnya bernama idealism. Tokoh dari filsafat ini adalah Plato. Menurut ilmu, yang benar itu yang ada di dalam pikiran. Objek yang berada di luar pikiran  dapat dilihat, didengar, dan diraba. Objek ini bersifat berubah sehingga filsafatnya bernama realism dengan tokoh Aristoteles.
Filsafat dipandang dari banyaknya objek ada tiga, yaitu satu objek, dua objek, dan banyak objek. Filsafat yang terdiri atas satu objek disebut monoism. Maksud dari satu objek ini adalah sesuatu hal yang benar hanya satu, yaitu tidak lain dan tidak bukan adalah Tuhan. Filsafat yang terdiri atas dua objek disebuat dualism dan filsafat yang terdiri atas banyak objek disebut pluralism.
Oleh karena itu, aliran filsafat berasal dari macam objeknya, lokasi objeknya, dan karakteristik objeknya
Sejarah perkembangan filsafat hingga pada filsafat modern dan kontemporer
Setiap yang ada dan yang mungkin ada pasti ada filsafatnya karena itu merupakan urusan dunia, urusan manusia . Karena keterbatasan pikiran manusia dan rahmat Tuhan, manusia dapat membedakan. Misalnya kita tidak dapat hidup di air terus menerus. Maka kita bisa membedakan keadaan air dan keadaan udara. Kita tidak bisa terbang, maka kita dapat membedakan yang bisa terbang dan yang tidak bisa terbang. Kita tidak dapat berlari secepat kilat, maka kita bisa membedakan jarak dekat dan jarak jauh. Oleh karena itu, segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada membawa rahmat jika kita mampu menggalinya dengan cara mensyukuri. Syukur itu dapat ditunjukkan dengan doa sehingga doa menjadi aktivitas sehari-hari.
Dengan keterbatasan manusia memikirkannya, maka yang terjadi pada ruang dan waktu, yaitu menembus ruang dan waktu. Menembus ruang dan waktu jika digambarkan adalah makhluk yang luar biasa, super, setengah dewa. Jika kita intropeksi diri, menembus ruang dan waktu adalah mengalami perubahan. Jika belajar berfilsafat, maka kita juga belajar professional karena professional itu intensif (sedalam-dalamnya) dan ekstensif (seluas-luasnya). Dengan demikian secara professional kita berfilsafat dengan menguraikan pikiran-pikiran filsuf kemudian direlevansikan dengan pengalaman. Oleh karena itu, jika kita berbicara tentang ruang dan waktu, maka ruang dan waktu itu juga berdimensi. Yang menembus ruang dan waktu itu adalah subjeknya. Waktu menurut Immanuel Kant ada tiga, yaitu berurutan, berkelanjutan, dan berkesatuan (tidak dapat dipisah-pisah).dimensi ruang ada bermacam-macam, ada dimensi nol, dimensi satu, dimensi dua, dimensi tiga, dan seterusnya. Namun hal itu merupakan teori. Dalam kenyataannya, banyak sekali kita jumpai ruang. Contohnya adalah ruang yang berada di bawah pohon, ruang terbuka, ruang tertutup, ruang ramah lingkungan, ruang kuliah, ruang doesn, ruang penuh, ruang kosong, dan seterusnya. Jika kita ekstensikan (kembangkan) dengan bahasa analog, maka ruang adalah pikiran. Ruang itu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada dan yang mungkin ada juga mempunyai ruangnya masing-masing sehingga terdiri atas wadah dan isi. Tanpa wadah kita tidak dapat mendefinisikan isi, dan sebaliknya. Untuk mengetahui ruang, kita juga mengetahui waktu. Untuk mengetahui waktu, kita juga harus menggunakan ruang. Sebenarnya, ruang dan waktu tidak ada, hanya ada dalam pikiran (intuisi). Kita dapat memahami ruang karena intuisi, bukan definisi. Definisi hanya digunakan sebagai pertolongan. Kita memiliki ruang imajiner, yaitu material, formal, normative, dan spiritual. Material merupakan bentuk diri kita, formal merupakan diri kita yang tertulis, normative adalah ilmu-ilmu, filsafat. oleh karena itu, orang yang bersopan santun adalah orang yang dapat menempatkan diri sesuai dengan tempatnya. Contohnya adalah kotor dalam ruang spiritual adalah dosa.
Jika diekstensikan lagi menggunakan bahasa analog, kita memiliki ruang orang kapitalis. Meka membuat rruang atau struktur hirarki mulai dari ruang arkaik, triodal, tradisional, feodal, modern, cosmodern, post-cosmodern. Itulah pentingnya kita bersopan santun terhadap ruang. Orang yang berilmu adalah orang yang bersopan santun terhadap yang ada dan yang mungkin ada sehingga orang yang berilmu dalam pendidikan adalah orang yang bersopan santun terhadap apa yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Santun berarti mengerti, menghayati, mengimplementasikan, mengaplikasikan dan merefleksikan.
Pada saat ini, kita berhadapan dengan sistem. Sistem kita yaitu menempatkan spiritual  di paling atas. Tidak ada satu pun unsur di dunia ini yang terbebas dari unsur spiritual. Di sisi lain kita menghadapi gejolak dunia, pengaruh globalisasi, akibat dari power know yang terdiri atas empat ujung tombak, yaitu kapitalisme, pragmatism, utilitarian, dan hedonism. Kapitalisme mengukur segala sesuatu dengan berhasil atau tidaknya ekonomi. Utilitarian mengukur segala sesuatu dari segi manfaatnya (manfaat untuk yang bersangkutan tanpa memikirkan orang lain). Pragmatisme menghaislkan budaya serba cepat dan praktis. Hedonism mengejar rasa senang, kenikmatan. Maka kehidupan modern ini ditandai dengan orang mengejar rasa senang, berupa penemuan-penemuan, hubungan, makanan, dst. Mereka berusaha mendeskripsikan atau menspesifikkan pilah-pilah tersebut. Misalnya memisah antara pernikahan dan percintaan. Jika itu merupakan suatu sistem yang tidak kita suka, maka itu disebut dajjal. Itulah dunia yang diciptakan oleh power know. Handphone juga hasil kerja dari power know karena power know juga merupakan industry dan teknologi. Ibarat siang dan malam, kita tidak dapat memisahkan siang dan malam, tidak dapat menentuka batas siang dan malam. Power know menciptakan dunianya dengan meletakkan religi di tengah, yaitu di ruang tradisional sehingga agama di dunia barat tidak favorit, yang terkenal adalah penemuan-penemuan baru.
Ruang merupakan salah satu kategori  atau klasifikasi. Dirimu adalah tergantung dirimu. Ketika dalam suatu acara, dirimu sebagai tamu, panitia atau tuan rumah. Jika dalam pertandingan, dirimu sebagai pemain, wasit, atau penonton. Dalam material, dirimu adalah kakimu, tanganmu, atau bagaian apa. Dalam formal, dirimu adalah yang tertulis di ktp, dalam tulisanmu. Normative adalah pikiranmu dan spiritual adalah doa-doa, ibadah dan amalmu. Jika dikatakan menembus ruang dan waktu, maka dirimu adalah tergantung material, formal, normative, dan spiritualmu. Selain manusia, hewan, tumbuhan, dan batu pun bisa menembus ruang dan waktu karena mereka tidak dapat melepaskan diri dari ruang dan waktu. Batu juga mengalami hari Senin, namun hanya saja batu tidak tahu Senin. Senin hanya ada di pikiran kita. Sebenar-benar manusia, tidaklah mengalami hal yang sama sehingga ruang dan waktu berdimensi.
Pertanyaan yang selanjutnya adalah bagaimana metode menembus ruang dan waktu. Metode tersebut ada di dalam pikiran subjeknya. Jika batu permata , maka ia bisa menembus ruang dan waktu dengan dipakai oleh sang pemilik ke suatu tempat. Secara filsafat, yang mendasar dalam menembus ruang dan waktu adalah:
1.      Fenomenologi
Fenomenologi merupakan karya cipta Husserl. Unsure dasar dari fenomenologi adalah abstraksi dan idealisasi. Abstraksi adalah memilih (reduksi) dan idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada. Kodrat manusia adalah reduski (memilih) sehingga hidup itu pilihan. Selain kita bisa memilih, namun kita juga terpilih dan dipilih oleh Tuhan. Dalam hidup sehari-hari kita diberi keterbatasan.Kita tidak adil pada semua objek karena kita tidak bisa melihat objek-objek di belakang kepala. Artinya, objek-objek tersebut terpilih oleh dirimu. Filsafat yang berhubungan dengan reduksi (terpilih) disebut reduksionisme. Oleh karen itu, sebenar-benarnya manusia adalah reduksi karena manusia tidak bisa tidak memilih. Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang ada yang tidak terjangkau oleh kita. Semua yang tidak dapat dijangkau dan dipikirkan dimasukkan ke dalam rumah epoke. Misalnya ketika kita mempelajari matematika maka semua hal yang berhubungan dengan bahasa dimasukkan ke dalam rumah epoke.
2.      Pemahaman tentang fundasionalisme
Semua makhluk beraga adalah kaum fundasionalisme karena semua orang yang beragama menempatkan Tuhan sebagai Kausa Prima, yaitu sebab dari segala sebab dan sebab yang utama dan pertama, sehingga tidak ada sebab lain yang mendahuluinya. Mereka disebut kaum fundasionalism karena memiliki fundamen, yaitu permulaan. Contoh dari kaum fundasionalisme yaitu seluruh matematikawan karena mereka membuat Matematika dengan diawali definisi.
3.      Pemahaman tentang anti fundasionalisme
Pada hakikatnya semua manusia adalah fundasionalisme namun manusia mempunyai keterbatasan sehingga tidak mampu mengenalinya. Ada sebuah pertanyaan mengenai “kapan Anda bisa mengenal besar dan kecil?”. Jika jawabannya sejak kecil, kecilnya umur berapa. Tidak ada orang di dunia ini yang mampu mengatakan sejak kapan ia bisa membedakan besar-kecil. Hal ini yang dinamakan anti fundasionalisme. Dalam filsafat ini, sesuatu tidak perlu define dan permulaan. Anti fundasionalisme tersebut kemudian disebut sebagai intuisi (intuisionisme). Intuisi ini merupakan cara belajar anak kecil, yaitu dengan kegiatan dan contoh. Suatu keyakinan jika dikaitkan dengan filsafat, maka ia bersifat intuisi karena pertanyaannya adalah “sejak kapan kau percaya?”.

Dari perkembangan perjalanan filsafat hingga masa August Compe yang melahirkan ilmu-ilmu bidang maka kita mempunyai banyak sekali ruang. Ruang yang diciptakan manusia sebagai perkembangan ilmu. Sehingga timbullah produksi istilah-istilah baru secara kreatif. Kata-kata baru ini diciptakan oleh orang yang punya otoritas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar